Penebusan (Atonement)

Adalah hal yang lebih mudah bagi setiap orang untuk melihat atau menemukan logika yang bermasalah atau cacat pikir dari suatu agama/ kepercayaan yang bukan merupakan keyakinannya. Hal ini terutama karena kita biasanya sudah dikondisikan pada suatu kepercayaan/ doktrin pada usia yang masih sangat muda, saat kemampuan berpikir belum cukup berkembang. Selain itu mempertanyakan atau meragukan suatu doktrin atau dogma yang sudah tegak selama ratusan atau ribuan tahun adalah hal yang sangat tabu atau sebagai manifestasi kurangnya iman bagi kebanyakan orang.
Mereka yang tidak meyakini suatu agama/ kepercayaan tertentu tidak dibatasi oleh ketabuan itu sehingga mereka sebenarnya cenderung bisa lebih obyektif dan bisa sangat kritis, bila mereka berpengetahuan cukup luas tentunya.

Banyak orang Kristen yang mungkin tidak menyadari bahwa keselamatan melalui kematian/ penebusan oleh Yesus Kristus di kayu salib itu bisa terdengar aneh, tidak adil atau tidak masuk akal bagi orang di luar iman Kristen. Mereka menyangka bahwa hal itu adalah sangat wajar dan sangat logis, karena itulah hal yang mereka dengar hampir setiap minggu.
Tentu saja hal ini berlaku umum untuk semua agama/ kepercayaan lain, misalnya untuk masyarakat moderen ritual melarung sesajen ke laut itu sangat tidak masuk akal, atau bagi non-muslim banyak hal dalam hukum syariah atau bahkan 5 pilar itu dipandang sebagai hal yang aneh, tidak adil atau tidak masuk akal.
Hal ini menjadi lebih runyam lagi ketika yang didengar adalah ajaran/ aliran yang bahkan di kalangan agamanya sendiri juga dipandang sebagai kelompok yang "aneh", "sesat", ultra-liberal atau ultra-konservatif.

Jadi jangankan bagi orang luar, di kalangan Kristen sendiri ada berbagai pandangan dan penafsiran mengenai arti kematian Kristus di kayu salib sebagai jalan rekonsiliasi antara manusia dengan Allah.
Sebagai latar belakang, bila kita melihat hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, ritual untuk penghapusan dosa yang walaupun intinya adalah pertobatan namun mutlak diperlukan juga korban persembahan yang berupa binatang seperti lembu, domba, kambing atau burung merpati yang dipersembahkan di altar.
Apakah Tuhan memang begitu suka sekali barbeque sehingga bila ada korban bakaran maka beliau lebih bermurah hati untuk memberi pengampunan? Tentunya tidak, karena yang penting adalah sikap hati, namun mungkin saja untuk masyarakat dalam transisi pasca-keprimitifan itu kalau tidak ada ritual atau korban persembahan tertentu rasanya kurang afdol, tidak plong, tidak yakin kalau dosa-dosanya sudah diampuni.

Mudah saja bagi yang sudah hidup di Perjanjian Baru untuk mengerti bahwa korban itu hanyalah simbolisasi, namun orang2 Israel pada masa itu mungkin benar2 mengira bahwa korban2/ ritual2 itu benar2 bisa menghapus dosa mereka.
Namun seperti tertulis di Ibrani 10: "1. Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. ...
3. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.
4. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa."

Dalam Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darah anak domba Allah, Yesus Kristus adalah Penebus dosa manusia sehingga barangsiapa yang setia kepada-Nya akan beroleh keselamatan (kebangkitan dan hidup yang kekal).
Namun apakah hakekat/ arti sesungguhnya dari semua itu? Apa yang terjadi di balik kematian dan kebangkitan Kristus sehingga mereka yang setia mengikut Dia akan beroleh keselamatan itu?
Ada sekitar 7 teori yang telah mencoba menafsirkan/ menjelaskan hal ini, oleh teolog2 dan Bapak2 Gereja sejak dari abad pertama. Teori2 itu bisa dikategorikan dalam 3 pandangan:
1. Pandangan "klasik"
* Pembayaran Tebusan (Ransom theory): Dosa Adam membuat manusia terjual kepada iblis dan untuk membebaskan manusia kematian Kristus adalah tebusannya. Teori ini mungkin tidak begitu populer karena sangat problematik, di mana sepertinya Allah punya kewajiban membayar tebusan kepada iblis, yang sebenarnya di bawah kuasa-Nya juga.
* Kemenangan Kristus (Cristus Victor theory): kematian Kristus justru adalah awal kemenangan, karena alam maut tidak bisa mengalahkan-Nya, Kristus bangkit dan menyelamatkan manusia dari alam maut.
* Kemanunggalan (Recapitulation theory): : Kristus menjadi sama dengan manusia, supaya manusia yang mengikuti/ bersama-sama/ manunggal dalam kematian-Nya akan dibangkitkan juga bersama dengan Dia.

2. Pandangan "obyektif"
* Pemenuhan keadilan (Satisfaction theory): Allah sangat mengasihi manusia dan ingin menyelamatkannya bukan berdasar perbuatan2 baik melainkan berdasar anugerah, namun tidak bisa mengampuni manusia begitu saja tanpa menjatuhkan hukuman karena sifat keadilannya, sehingga harus ada penebusan. Varian/ pengembangan dari teori, yang intinya hampir sama ini adalah:
* Substitusi Penghukuman (Penal Substitution theory): Kristus menanggung hukuman sebagai pengganti bagi manusia. Dan
* Moralitas Pemerintahan (Govermental theory): keadilan harus ditegakkan agar manusia tidak main2 dengan konsekwensi dosa.
Kritik pada pandangan ini adalah bahwa Tuhan terkesan legalistik atau terikat pada hukum/ sifat keadilannya sendiri, padahal dengan kedaulatan-Nya bisa saja tidak perlu ada restitusi/ substitusi untuk suatu rekonsiliasi. Jawaban bagi kritik ini adalah bahwa tanpa penebusan, pengampunan/ keselamatan itu bisa menjadi sesuatu yang murahan/ tidak berharga.

3. Pandangan "subyektif"
* Teladan Moral (Moral Influence theory): kehidupan dan kematian Kristus adalah teladan untuk menginspirasi manusia agar mengerti arti ketaatan dan pengorbanan. Manusia baru yang mau hidup seperti Kristus dan taat hingga tidak menyayangkan nyawanya sendiri akan memperolehnya kembali seperti dalam kebangkitan Kristus.
Permasalahan utama dari teori ini adalah bahwa pengikutnya menjadi harus lebih banyak membaca Alkitab dari cara pandang non-literalis.

Entah teori2 mana yang kita yakini, yang jelas Kristus memang telah memberikan teladan untuk diikuti, di mana kemenangan bagi Dia bukanlah menjadi Mesias yang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi dan menjadi Raja secara duniawi namun justru menjadi Raja yang rela mati dengan cara paling mengenaskan bagi rakyatnya, untuk menunjukkan seberapa besar dan tak terselaminya Kasih Allah itu, sehingga mereka yang bisa melihat dan mengerti akan Kasih itu akan hidup pula dalam kasih. Menjadi Juru Selamat/ Raja Damai, suatu konsep yang sulit dimengerti secara duniawi.

Kiranya kita semua mendapatkan hidayah, kasih karunia dan karunia kasih di Jumat Agung ini. smile emoticon

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!"  (Filipi 2:5-11)